1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Photos-Gage


Archive for May, 2008

Yang Lalu Biarlah Berlalu

Menjelang Pemilu 2009, tampaknya televisi tidak mau kehilangan beberapa momen. Terlihat dari semakin banyaknya program-program yang menyajikan dialog dengan mengundang beberapa pengamat politik. Dan tak lupa, banyak juga blogger yang sudah mulai menyinggung soal Pemilu nanti, seperti saya ini. Yah, mungkin ini bisa jadi topik yang menjual dan mungkin bisa menjadi catatan sejarah negeri kita ini.

Saya memang kurang mengerti soal Politik, tapi tak ada salahnya jika saya beropini lewat blog ini.

Dari program dialog yang ditayangkan di televisi itu biasanya mengundang beberapa pengamat, nara sumber, tim sukses yang nanti akan berjuang dan mungkin simpatisan. Mereka diundang tampil supaya program itu terlihat ramai dan dialog yang dilakukan berjalan dengan seru. Memang, para pengamat, nara sumber, dan tim sukses itu pintar sekali mengeluarkan pernyataan dan jawaban yang sering terlontar dalam acara itu. Tak percuma juga mereka memegang gelar Sarjana Politik, Sarjana Hukum atau Sarjana Komunikasi.

Paklik

Tetapi ada sesuatu yang terlintas dipikiran saya ketika beberapa kali melihat tayangan dialog yang membahas tentang prediksi calon presiden 2009 nanti. Ternyata tamu dialog kali ini adalah salah satu anggota petinggi dari partai yang telah berhasil menjadikan calonnya dipemilu 2004 terdahulu menjadi presiden hingga saat ini. Ketika moderator menyampaikan pertanyaan “Apa yang membuat partai anda mencalonkan kembali beliau” sang petinggi itu menjawabnya dengan lugas “Yah, karna kinerja beliau sampai saat ini sangat bagus meski negara ini sedang dilanda banyak masalah”. Sambil menghela nafas, petinggi kembali meneruskannya “Coba saja bandingkan dengan presiden-presiden terdahulu, rasanya dia masih pantas”.

Yah, kata-kata terakhir pertinggi itu yang membuat saya berpikir, kenapa beliau membandingkan dengan presiden-presiden terdahulu? Memang apa yang salah dengan presiden-presiden terdahulu? beliau pun tak menyampaikannya. Ah, memang itu politik dagang mereka, mencari komparasi dengan yang dulu karena yang dulu terlihat lebih kuno. Memang benar, ada pepatah mengatakan “Belajarlah dari masa lalu” mungkin ini yang ingin beliau sampaikan. Tapi kok saya berpikir jika perkataan yang beliau sampaikan itu dikatakan lagi untuk pemilu berikutnya, apakah itu berarti presiden yang mereka calonkan saat ini pun sebenarnya kuno?

Sir Mbilung MacNdobos

Rudyanto namanya, sebenarnya sungkan saya menyebut namanya karena di adat saya sebenarnya pantang untuk menyebutkan nama orang tua sembarangan. Tapi apa boleh buat disini saya mau mencoba menuliskan sedikit tentang beliau dari cara pandang saya. Semoga sampean tidak keberatan tuan! dan jangan kutuk saya!

Di kancah blog ini masih ada yang belum kenal beliau? Coba sana cari tau tentang dirinya! tapi sebelum anda mencari tahu tentang beliau ada baiknya habiskan dulu membaca tulisan ini. Lalu silahkan anda berkomentar apakah pendapat kita sama tentang dirinya? Jika sudah kenal beliau anda tak perlu repot membaca habis tulisan ini, silahkan saja langsung sebutkan kata-kata apa yang dikepala anda tentang dirinya.

Baiklah, saya akan memulainya.

Mulanya saya tak pernah kenal dirinya, mengunjungi blognya pun tak pernah. Silahkan anda sebut saya katro jika memang begitu, karena mungkin anda pun katro jika belum pernah mengenalnya hingga saat ini. Lalu, di bulan Oktober 2007 itulah saya baru mulai mengenalnya. Ito Nana itu mengenalkan dirinya kepada saya, saat itu beliau sedang panik karena domain kebanggaannya itu habis masa berlakunya dan teman saya yang mengurusi domainya itu lupa untuk memperpanjangnya. Alhasil saya pun dikontak dan dimintai bantuan untuk menyanyakan soal kepanikannya tersebut. Itulah cerita singkat perkenalan saya dengan dirinya.

“Baru sekali nikah dan kapok untuk mengulanginya”, itu penggalan perkenalan yang pernah dia sampaikan. Beliau ini buat saya sudah cukup tua, lihat saja ciri khas rambutnya yang sudah memutih saya kira itu cukup menyimpulkan berapa usianya saat ini. Memiliki 2 orang putra yang pendiam dan riwil tapi tetap taat pada orang tuanya dan istrinya yang anggun itu ternyata bisa menakutkan buat lelaki berumur ini.

Dibulan Februari 2008 kembali saya harus berurusan dengan dirinya, kali ini soal mendandani blognya agar tampak lebih muda dan energik. Memang, dijaman ini tak hanya yang muda-mudi saja yang aneh, tua-tui pun ikut aneh, sudah tua kok minta agar tampak lebih muda? Ah, mungkin saja saat itu beliau sedang puber yang ntah kesekian. Proses pergantian tampilan blognya itu pun saya kerjakan di tempat hunian sementaranya. Tempat itu cukup nyaman dan memberikan inspirasi untuk perkerjaan ini, sehingga proses pergantian itu pun cepat terselesaikan yang diselingi jalan-jalan keluar rumah.

Pada saat itu saya mulai kenal lebih dekat dengan dirinya, karena saat itu saya berkomunikasi tatap muka langsung dengan dirinya. Biasanya frekuensi komunikasi kami lebih banyak dilakukan melalui media layar kaca ini. Perbincangan yang kami lakukan tak pernah serius, selalu bercanda dan tak lupa mengolok-olok orang lain karena itu yang membuat kami bangga akan diri sendiri. Sebelumnya saya sudah menerka kalo orang tua ini adalah percontohan orang tua dimasa depan. Lama kelamaan saya mulai yakin, “Yak! beliau ini manusia percontohan”.

Sesekali sempat saya mencobai beliau dengan beberapa pertanyaan yang mungkin cukup mengesalkan, tak percaya? Tanyakan saja pada tika dan miko, apa saja yang sempat saya tanyakan padanya. Saya memang suka mengesalkan jika bertanya, tapi beberapa pertanyaan itu biasanya akan berpengaruh terhadap cara pandang saya terhadap orang tersebut. Beberapa pertanyaan memang tak pernah dia jawab dengan serius dan beberapa pertanyaan dia jawab dengan singkat tanpa menjelaskannya, yah itu memang karakternya. Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata tak cukup untuk mengecoh dan membuatnya kesal dan saya pun tidak bisa langsung menyimpulkan bagaimana cara pandang saya terhadap dirinya.

Perbincangan yang tak pernah serius, pertanyaan-pertanyaan yang tidak berhasil dan jawaban-jawaban yang cukup singkat ternyata tidak bisa membawa saya kepada kesimpulan kenapa saya bisa menjulukinya sebagai “manusia percontohan”. Aha! Ternyata setelah lama memahaminya baru saya menyadari ternyata ada satu hal yang membuat saya yakin akan julukan tadi. Sifat, watak dan tindakannya lah yang membuat saya kagum pada orang tua ini. Banyak hal yang bisa saya dapatkan setelah memahami sifat, watak dan tindakan beliau. Rasanya tak perlu anda langsung bertanya-tanya tentang dirinya, mungkin dia akan menjawabnya dengan singkat atau mungkin terdengar sedikit sombong akan dirinya sendiri. Bersahabatlah dengannya dan jadikanlah sifat, watak dan tindakannya itu sebagai ceriman pelajaran.

Sebenarnya tulisan ini mungkin tak pernah berarti buat anda apalagi saya tak punya kepintaran dalam menulis karena saya bukan jurnalis. Tapi disini saya cuma ingin mengenang dan mengucap terima kasih kepada beliau kerena saya tak pernah tau sampai kapan kami akan berjodoh. Jika kami sudah tidak lagi berjodoh mungkin tidak ada gunanya saya menuliskan ini, yang sama halnya dengan patung-patung pahlawan itu yang hanya jadi hiasan kota saja.

Terima kasih Lae! meski kau tau pernah mengajariku tapi sudah banyak ilmu yang sudah kudapat darimu.

Kencan yang terlupakan

Sudah lama saya tidak berkencan yang terencana dengan seorang wanita. Ntah, bagaimana aturan dalam berkencan pun saya sudah tak paham. Bagaimana cara merayu wanita untuk berkencan pun saya sudah tak mengerti. Pikiran saya cuma mengatakan bahwa kemungkinan besar cara berkencan di jaman sekarang ini sudah berbeda dengan jaman dulu. Lihat saja gaya pacaran muda mudi jaman sekarang, menurut saya cukup ekstrim bergaya pacaran dengan usia belia seperti itu.

Kamis malam tepatnya, saya memberanikan diri sambil menekan tombol-tombol kecil dengan jempol untuk mengirimkan pesan elektronik kepada seorang wanita disana. “Mbakyu, sabtu ada kencan ga?” itulah pesan singkat yang saya kirimkan. Awalnya kata kencan itu cumalah sindirian semata karna beliau sempat menyindir saya soal tidak berani mengajak kencan seorang wanita. Apalagi setelah melihat sindirian tersebut kawan-kawan itu mulai mengolok-olok dengan sebutan “Cemen”. Ah biarkan saja mereka, saat ini saya memang berniat mengajaknya berkencan dengan sajian utama kencannya adalah melihat pemutaran film Iron Man di kota metropolis sana karena dikota saya belum kunjung di putar.

MbakDos, sapaan yang dikenal di dunia blogosphere inilah wanita yang saya ajak kencan itu. Konon, banyak kaum adam didunia blogosphere ini yang mengagumi dirinya. Siapa yang tidak kagum dengan dirinya? Berparas cantik, pintar dan modern saya kira ketiga faktor itu cukuplah untuk menjadikan beliau idaman para adam. Untuk faktor-faktor lainnya silahkan anda bekenalan dan cari tahu sendiri, saya tidak mau menuliskannya disini nanti hidungnya bisa kembang kempis. Jangan pula pernah membandingkan beliau dengan Dian Sastro, Sandra Dewi apalagi Dewi Persik karena anda tidak akan menemukan nilai golden ratio disana.

Nekat, mungkin itu kata yang tepat jika anda mengetahui saya mengajak kencan idaman kaum adam itu. Memang begitu, karena disaat berbalas surat elektronik pun saya sempat menuliskan “… sekalian uji nyali”. Maaf juga buat pengagum yang lain, kalo saya sudah berani mengajaknya ’salam damai’ saja.

Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan untuk pergi berkencan pada sabtu sore tepatnya tanggal 3 Mei 2008 karena inilah waktu yang cocok untuk berkencan seperti orang-orang yang berpasangan seperti biasanya. MbakDos minta di jemput dirumahnya sebelum pergi ketempat tujuan, dan minta mengembalikannya kesedia kala. Ah, apa boleh buat mungkin ini yang sering dilakukan orang-orang saat berkencan lagipula layaklah saya memperlakukan beliau seperti itu.

Kencan istimewa yang pernah terlupakan, mungkin itulah kalimat yang cocok dengan pertemuan saat itu. Kenapa bisa begitu? Awalnya saya juga tidak pernah terpikir untuk menggunakan kalimat itu. Saya merasa yang saya lakukan pada saat itu hanyalah biasa saja, wajarlah jika seorang pria menjemput seorang wanita yang diajaknya dan kemudian mengembalikannya karena dia sudah dijemput sebelumnya. Wajarlah, jika saya mandi sebelum berangkat menjemputnya karena saya tidak mau mempermalukan beliau diluar sana. Wajarlah, jika saya menggunakan pewangi kerena kemungkinan pada saat pemutaran film nanti duduk kami bersebelahan. Wajarlah jika saya membayarinya sebuah tiket masuk karena saya yang mengajaknya, itu pun terhitung gratis karena kami menggunakan fasilitas “buy one get one”.

Lalu kenapa saya menemukan dan menggunakan kalimat diatas? Aha, saya baru menyadari kalo saya pergi berkencan dengannya menggunakan kemeja berlengan panjangan, celana jeans, dan sepatu. Terkaget-kagetlah jika anda yang biasa melihat saya dengan menggunakan celana pendek, berkaos dan sandal. Kostum dengan kemeja lengan panjang, celana panjang dan sepatu biasanya hanya saya gunakan pada perhelatan resmi seperti bertemu calon client, jadi pembicara, undangan perkawinan dan pergi kegereja. Dimana semua kegiatan itu jarang sekali saya lakukan, keseharian saya bekerja di ‘ntah rumah ntah kantor’ hanya menggunakan celana pendek, kaos dan telanjang kaki. Oleh karenanya beberapa kemeja lengan panjang itu biasanya tergantung dalam bungkusan plastik setelah di cuci di tempat jasa penyucian dan jarang sekali keluar dari lemari pakaian.

Saya memilih menggunakan kemeja dengan lengan panjang itu karena memang saya ingin memperlakukan beliau dengan istimewa dan tidak ingin mengecewakan pengagum beliau yang lainnya. Lagipula wajarlah saya menghormati beliau karena sudah mau menerima tawaran kencan ini.

Kemeja itu sudah lama tidak saya gunakan untuk menutupi badan ini, sama seperti saya sudah lama tidak memilih untuk memperlakukan wanita seperti saat itu. Untuk itu saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk MbakDos yang sudah menyadarkan saya saat itu untuk memperlakukan wanita dengan pernuh kehormatan.

Kemeja itu kini saya gantungkan kembali menunggu kencan yang pernah terlupakan.