1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Photos-Gage


Archive for June, 2008

Blog By Chocolate

Memang banyak alasan mengapa kita nge-blog, saat ini saya yakin dari blog kita bisa mendapatkan lebih banyak suka dibanding duka. Lihat saja nona dan tuan itu, lewat blog mereka saling mengenal dan kini dimabuk asmara. Tak pula hanya soal asmara yang mereka dapatkan, ternyata Dagdigdug pun menghadiahi mereka alat komunikasi agar kisah mereka selalu membara.

Tak mau kalah dari cerita pasangan itu, hari ini saya mendapat cerita suka dari sebuah blog.

Sore ini saya mengunjungi Death By Chocolate yang berada di jalan Ceremai 22 Bogor, dengan tujuan hanya sekedar ingin berfoto-foto makanan favorit yang ada disana sekalian memperbanyak koleksi foto makanan saya. Setelah bertanya-tanya soal makanan favorit disana, ternyata makanan favoritnya adalah Fritata (spageti bakar), Death by Chocolate (coklat), Granita (minuman) dan Hot by Chocolate (minuman). Akhirnya saya pun memutuskan untuk memesan Death by Chocolate untuk dibawa pulang dan Hot by Chocolate yang dicampur dengan sedikit Liquor. Terdengar sedap bukan?

Setelah pesanan itu dihidangkan diatas meja, langsung saja senjata perekam gambar itu saya keluarkan dan memulai aksi saya. Tak lama pramusaji bertanya “Foto-foto buat apa mas?” dengan senyum Indonesianya. Ah, spontan saya jawab “Anu mas, saya mau menulis tentang tempat ini dan makanan favoritnya di blog saya. Boleh?”. “Wah boleh sekali mas. Bentar, biar supervisor saya yang membantu mas” langsung saja dia memanggil supervisor itu. Tak lama sang supervisor pun datang dan menemani saya menikmati coklat panas sambil berbincang-bincang soal tempat itu.

Awalnya tak ada maksud untuk menulis tempat itu secara lengkap karena saya bukan penulis blog seperti pak Zamroni. Tapi tak apalah, toh ini bisa menambah pengetahuan saya dan mungkin bisa menjadi bahan tulisan di proyek baru pak Jengjeng itu. Seteleh lama berbincang-bincang dan banyak informasi yang sudah saya dapatkan, saya pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam. Ketika saya beranjak ke meja kasir, sang supervisor pun menolak pembayaran yang ingin saya lakukan dan dia berkata “Gak usah dibayar mas, kami senang mas mau nulis tentang tempat ini setidaknya bisa jadi bahan promosi buat kami”. Sesaat saya terkaget, karena awalnya saya tidak bermaksud untuk menulisnya tapi dengan kejadian ini saya bertekad untuk menulisnya nanti ditempat pak Jengjeng.

Mungkin ini cerita suka yang tidak seberapa istimewanya dibanding cerita kalian, tapi saat ini saya melihat bahwa penulis blog bisa makan gratis. Cukup dengan berbekal kamera dan kaos bertuliskan “New Kids on The Blog” dari dagdigdug saya yakin anda sudah bisa menenteng oleh-oleh seperti saya.

Terima kasih untuk DBC dan mas Harsono.

Pemilihan Agama

Berkuda besi disore hari dengan mengitari pinggiran kota Bogor ternyata membawa buah pemikiran buat saya. Disepanjang perjalanan itu saya menemukan banyak sekali spanduk, poster, baliho yang berperang untuk menjual calon bupati Bogor dimasa mendatang. Buat saya iklan-iklan calon Bupati itu terasa bualan belaka seperti memberikan janji kepada anak kecil yang nanti akan membawanya kepasar berbelanja mainan.

Memang cukup membosankan dengan janji-janji mereka, tapi ada pola yang saya temukan diantara iklan-iklan kampanye yang berserakan itu. Kini saya melihat bahwa agama sudah dijadikan media untuk kampanye mereka. Lihat saja, pose-pose calon bupati itu pada saat di foto, ada yang menggunakan surban, baju koko, dan ada pula yang tidak lupa membawa tasbih. Tampak seperti orang yang sangat beriman bukan? Lalu apakah itu bisa menjual mereka? Mungkin cukuplah.

Saya jadi teringat, bahwa dulu kehidupan sosial dan adat istiadat dijadikan media untuk menyebarkan agama. Tapi kali ini agama dijadikan alat jual untuk kampanye politik mereka. Apakah ini tanda-tanda bahwa negara ini benar-benar negara beragama?

Chika Lane

Anda punya blog? Berdomisili di Jakarta atau sekitarnya? Sudah pernah kopdar? Sudah pernah ketemu Chika? Ah, Anda tak perlu mengaku-ngaku sebagai blogger yang sudah pernah kopdar kalo belum pernah ketemu gadis ini. Disini saya mau sedikit berbangga karena saya punya blog dan sudah pernah ketemu Chika. Meski pertemuan pertama kami itu tidak direncanakan tapi kami anggap kami berdua sudah pernah kopdar.

Setelah pertemuan pertama itu terjadi, ternyata komunikasi antara saya dengan gadis itu pun makin intensif. Komunikasi itu biasanya kami lakukan pada malam hari, selepas jam kantor pada umumnya atau ketika gadis ini sudah tiba dirumahnya. Padahal sebelumnya aku tak pernah kenal dengan dia, hanya kenal namanya dari kawan-kawan saja. Ternyata komunikasi yang kami lakukan melalui Yahoo Messenger itu membawa banyak cerita dan saya pun semakin kenal dengan sifat gadis ini.

Ternyata ada yang unik dari sekian banyak cerita. Dia bercerita tentang banyaknya kemauan yang ingin dilakukan, banyak hal ingin dia coba, banyak hal yang ingin dia bisa hingga bakat “jari ganas” yang dia punya. Mungkin karena keterbatasan waktu dan hal lainnya dia merasa sulit menggapainya. Tapi ada satu hal yang ingin dia bisa saat ini dan dia bertekad untuk bisa dalam waktu cepat. Dia ingin bisa menguasai aplikasi Adobe Photoshoop, “Gw pengen bisa Photosop Ge! Jadi bisa edit-edit foto” itu katanya. Dia pun meminta saya untuk mengajarinya dan saya pun sangat senang mengajarinya karna dia punya semangat yang sangat menggebu-gebu.

Kursus online pun kami lakukan dimalam hari, dan saya mulai mengajarinya dari awal hingga bagaimana cara menggunakan beberapa perkakas Photoshop. Tak heran, dengan semangatnya yang menggebu-gebu dan kepintarannya itu kursus pun berjalan dengan lancar dan cukup singkat. Malam ini adalah malam kedua kalinya kami berdiskusi tentang hasil kursus itu. Anda tau di hari kedua ini dia sudah menghasilkan apa? Silahkan lihat lampiran foto dibawah ini.

Jika Anda sudah melihat gambar itu, apakah saya sudah pantas memberikan sertifikat kelulusan padanya? Atau mungkin saudara Herman sudah harus mewaspadainya?

Janji Suci

Yovie & The Nuno

Foto selengkapnya di Flickr

 

Dengarkanlah Wanita Pujaanku
Malam Ini Akan Kusampaikan
Hasrat Suci Kepadamu Dewiku
Dengarkanlah Kesungguhan Ini

Aku Ingin, Mempersuntingmu
Tuk Yang Pertama Dan Terakhir

Jangan Kau Tolak Dan Buatku Hancur
Ku Tak Akan Mengulang Tuk Meminta
Satu Keyakinan Hatiku Ini
Akulah Yang Terbaik Untukmu

Dengarkanlah Wanita Impianku
Malam Ini Akan Kusampaikan
Janji Suci Satu Untuk Selamanya
Dengarkanlah Kesungguhan Ini

 

-  Ps: Jangan tanya saya kenapa posting lagu ini?  -

Hari Tanpa Iklan Tembakau

Jengjeng dadakan bersama Sultan Ndoyokarta semalam ternyata membawa cerita baru untuk blog ini. Setelah bertemu dengan ibu pejabat KDI di Cibujang, saya dan nona bermata bulat itu menawarkan sang Sultan untuk mengunjungi kerajaan Sillymangi. Sang Sultan pun dengan senang hati menerima tawaran kami dan mengharapkan kungjungan sang Sultan itu dapat mempererat hubungan bilateral diantara kedua kerajaan.

Setibanya sang Sultan di kerajaan Sillymangi pada malam hari, saya langsung mengajaknya keliling kerajaan. Tepatnya mengelilingi jantung kerjaan dengan berjalan kaki dan hampir setengah jantung kerajaan itu kami kelilingi. Banyak hal yang saya dan sultan dapatkan dalam perjalanan itu, tak lupa kami pun menyempatkan diri untuk mengambil gambar kenangan disetiap sudut kerajaan.

Diakhir penutup perjalanan malam itu tak sengaja saya melihat media berposisi vertikal yang ternyata pesan didalam media itu adalah kampanye untuk mendukung hari tanpa tembakau sedunia, kebetulan di peringati pada hari itu. Saya terheran-heran ketika kata-kata dalam kampanye tersebut, mungkin beginilah susunan kata-katanya “Industri rokok menjeratmu anak muda. Larang total semua iklan, promosi, dan sponsor rokok - Hari tanpa tembakau sedunia 31 Mei 2008″. Diposisi paling bawah media itu tertera lambang kerajaan Sillimangi dan lambang sponsor WHO.

Sejak kecil saya tak pernah merokok, mencobanya pun kurang tertarik. Lantas apakah saya harus mengajak kawan-kawan saya untuk tidak merokok atau berhenti merokok karena dia disamping saya? Ah, saya tidak akan melakukan hal itu selama saya tidak merasa terganggu dan kawan itu tidak bertanya “Kok gak ngerok sih lu? Gak gentle banget?!”. Jika begitu, apakah pantas jika kerajaan Sillymangi berkampanye seperti yang tertera di media itu? Padahal disana sini masih ada iklan layanan dan halte-halte kendaraan umum yang mempromosikan rokok. Belum lagi pajak iklan yang masih jadi bagian dari pembangunan kerajaan ini.

Bagaimana kawan, apakah kalian punya cerita tentang tembakau kemarin?