Tidak lagi
Pagi menjelang siang ini saya harus berada disebuah antrian yang bernomor urut. Setelah mendapatkan nomor antrian saya pun dipersilahkan duduk di sofa empuk berwarna merah yang panjang. Tak lama menyandarkan punggung pada sofa, terdengar sayup-sayup sebuah lagu,
Maybe I didnt treat you
Quite as good as I should have
Maybe I didnt love you
Quite as often as I could have
Little things I should have said and done
I just never took the time
…
Baru saja menikmati lagu itu, tiba-tiba terlintas satu hal yang semalam ditanyakan oleh seorang teman.
kok bisa tahan, gimana caranya sih?
Malam itu saya tak punya jawabannya, saya hanya melemparkan senyum, berkata yang bukan jawaban sambil bertanya-tanya “bertahan dalam hal apa yah? Ah.. mesti soal itu..”. Antrian masih lama, saya coba berpikir untuk mencari jawaban, siapa tahu hari ini dia menanyakannya kembali. Tak lama saya teringat wawancara yang dilakukan oleh Farhan kepada Bob Sadino disebuah acara televisi.
Ada 1 pertanyaan yang mungkin cocok dengan pertanyaan teman saya itu. Farhan sempat bertanya “Apa yang membuat bisnis Anda itu bisa sukses dan bisa bertahan sampai saat ini?” Bob menjawab sepenggal, “Tidak usah berharap.” Farhan kemudian mengarahkan mukanya pada kamera sambil berharap Bob memberikan penjelasan yang panjang. Bob pun mengerti dan melanjutkan perkataannya “Heeeh.. Han, saya itu melakukan segala sesuatu sungguh-sungguh dan tidak pernah berharap. Kalau saya berharap, kemungkinan dari dulu-dulu saya sudah kecewa dan tidak seperti saat ini.” Dia berbicara dengan logat Sunda, sambil menambahkan “Lihat saja istri saya, sampai sekarang belum ganti-ganti kan?” Lalu mereka berdua tertawa.
Ah, mungkinkah ini jawabannya? Apakah saya tak perlu berharap atas apa yang saya miliki dan yang telah saya lakukan? Mengingat karakter saya tak mungkin seperti itu. Tapi rasanya saya harus mencobanya!
Kemudian pertanyaan itu pun tak lama hilang, dan lagu tadi terdengar kembali.
Maybe I didnt hold you
All those lonely, lonely times
And I guess I never told you
Im so happy that youre mine
If I make you feel second best
Girl, Im sorry I was blind
…
Lagu itu terputus kembali setelah mendegar suara robot, “Nomor antrian 507, silahkan menuju loket 5.”
12:11 pm
hohohoh jawaban di temukan ditempat yang tak terduga, susah euy belajar gak berharap
berani berharap = berani dikecewakan
12:32 pm
sangat opposite sekali dgn postinganku
12:46 pm
makanya cari yg baru….hhehehe..
1:20 pm
jadi istri om gage udah ganti??
*disawat*
*ngeles*
itu lagu nya apa to om?? kayak nya enak
trus tahan dari apa to om??
tante nya galak ya??
*di bogem*
*lari*
nggak kenak yeeeeeeee..
7:48 pm
ini pasti ngantrinya di GraPARI, ngantri di kasir hakakaka… *sok tahu terus dilempar sendal*
8:16 pm
klo kata org tua dulu, lakukan apa saja untuk org lain sebaik2nya dan jangan pernah mengharap org melakukan hal yg sama untukmu, atau…
berikan yg terbaik yang kamu bisa dan jangan pernah mengharap apa2, maka kamu akan bahagia..
*mudah diucapkan tapi susaaaaaaaahhh buat dilakukan* hehe..
8:20 pm
9:42 pm
waw, pemikiran yang sangat zuper, sangat gage sekali.
mantap lae…
eh betewe, ini soal (si)apa sih?
4:45 am
taun baru, adalah saatnya berubah… buang semua kenangan taun lalu! cari yang baru!
11:04 am
err… no koment .. hahhaha
10:50 pm
Tell me tell me that your sweet love hasn’t died
Give me one more chance to keep
you satisfied satisfied
You were always on my mind
You were always on my mind
10:27 am
hmmm….sungguh dalam, ada apa ini?? ada pa ini???
1:22 pm
gaya menulis y sangat akrab dgn saya…
2:08 am
michael buble, eh?
2:02 pm
kamu kok jadi pesimis dengan harapan?
2:52 pm
Kamu lagi ngantri bikin NPWP yah, ge?
5:47 pm
manage your expectation, begitu selalu dikatakan bos sayah
berharap boleh, tapi sadar bahwa semakin tinggi harapan digantungkan, semakin sakit pula jatuhnya jika harapan itu tinggal harapan …
10:19 pm
itu lagu siapa ya?

Hehehe..
2:46 pm
saya suka nomor antreannya, mengingatkan pada salah satu grup band asal yogyakarta.