
Rudyanto namanya, sebenarnya sungkan saya menyebut namanya karena di adat saya sebenarnya pantang untuk menyebutkan nama orang tua sembarangan. Tapi apa boleh buat disini saya mau mencoba menuliskan sedikit tentang beliau dari cara pandang saya. Semoga sampean tidak keberatan tuan! dan jangan kutuk saya!
Di kancah blog ini masih ada yang belum kenal beliau? Coba sana cari tau tentang dirinya! tapi sebelum anda mencari tahu tentang beliau ada baiknya habiskan dulu membaca tulisan ini. Lalu silahkan anda berkomentar apakah pendapat kita sama tentang dirinya? Jika sudah kenal beliau anda tak perlu repot membaca habis tulisan ini, silahkan saja langsung sebutkan kata-kata apa yang dikepala anda tentang dirinya.
Baiklah, saya akan memulainya.
Mulanya saya tak pernah kenal dirinya, mengunjungi blognya pun tak pernah. Silahkan anda sebut saya katro jika memang begitu, karena mungkin anda pun katro jika belum pernah mengenalnya hingga saat ini. Lalu, di bulan Oktober 2007 itulah saya baru mulai mengenalnya. Ito Nana itu mengenalkan dirinya kepada saya, saat itu beliau sedang panik karena domain kebanggaannya itu habis masa berlakunya dan teman saya yang mengurusi domainya itu lupa untuk memperpanjangnya. Alhasil saya pun dikontak dan dimintai bantuan untuk menyanyakan soal kepanikannya tersebut. Itulah cerita singkat perkenalan saya dengan dirinya.
“Baru sekali nikah dan kapok untuk mengulanginya”, itu penggalan perkenalan yang pernah dia sampaikan. Beliau ini buat saya sudah cukup tua, lihat saja ciri khas rambutnya yang sudah memutih saya kira itu cukup menyimpulkan berapa usianya saat ini. Memiliki 2 orang putra yang pendiam dan riwil tapi tetap taat pada orang tuanya dan istrinya yang anggun itu ternyata bisa menakutkan buat lelaki berumur ini.
Dibulan Februari 2008 kembali saya harus berurusan dengan dirinya, kali ini soal mendandani blognya agar tampak lebih muda dan energik. Memang, dijaman ini tak hanya yang muda-mudi saja yang aneh, tua-tui pun ikut aneh, sudah tua kok minta agar tampak lebih muda? Ah, mungkin saja saat itu beliau sedang puber yang ntah kesekian. Proses pergantian tampilan blognya itu pun saya kerjakan di tempat hunian sementaranya. Tempat itu cukup nyaman dan memberikan inspirasi untuk perkerjaan ini, sehingga proses pergantian itu pun cepat terselesaikan yang diselingi jalan-jalan keluar rumah.
Pada saat itu saya mulai kenal lebih dekat dengan dirinya, karena saat itu saya berkomunikasi tatap muka langsung dengan dirinya. Biasanya frekuensi komunikasi kami lebih banyak dilakukan melalui media layar kaca ini. Perbincangan yang kami lakukan tak pernah serius, selalu bercanda dan tak lupa mengolok-olok orang lain karena itu yang membuat kami bangga akan diri sendiri. Sebelumnya saya sudah menerka kalo orang tua ini adalah percontohan orang tua dimasa depan. Lama kelamaan saya mulai yakin, “Yak! beliau ini manusia percontohan”.
Sesekali sempat saya mencobai beliau dengan beberapa pertanyaan yang mungkin cukup mengesalkan, tak percaya? Tanyakan saja pada tika dan miko, apa saja yang sempat saya tanyakan padanya. Saya memang suka mengesalkan jika bertanya, tapi beberapa pertanyaan itu biasanya akan berpengaruh terhadap cara pandang saya terhadap orang tersebut. Beberapa pertanyaan memang tak pernah dia jawab dengan serius dan beberapa pertanyaan dia jawab dengan singkat tanpa menjelaskannya, yah itu memang karakternya. Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata tak cukup untuk mengecoh dan membuatnya kesal dan saya pun tidak bisa langsung menyimpulkan bagaimana cara pandang saya terhadap dirinya.
Perbincangan yang tak pernah serius, pertanyaan-pertanyaan yang tidak berhasil dan jawaban-jawaban yang cukup singkat ternyata tidak bisa membawa saya kepada kesimpulan kenapa saya bisa menjulukinya sebagai “manusia percontohan”. Aha! Ternyata setelah lama memahaminya baru saya menyadari ternyata ada satu hal yang membuat saya yakin akan julukan tadi. Sifat, watak dan tindakannya lah yang membuat saya kagum pada orang tua ini. Banyak hal yang bisa saya dapatkan setelah memahami sifat, watak dan tindakan beliau. Rasanya tak perlu anda langsung bertanya-tanya tentang dirinya, mungkin dia akan menjawabnya dengan singkat atau mungkin terdengar sedikit sombong akan dirinya sendiri. Bersahabatlah dengannya dan jadikanlah sifat, watak dan tindakannya itu sebagai ceriman pelajaran.
Sebenarnya tulisan ini mungkin tak pernah berarti buat anda apalagi saya tak punya kepintaran dalam menulis karena saya bukan jurnalis. Tapi disini saya cuma ingin mengenang dan mengucap terima kasih kepada beliau kerena saya tak pernah tau sampai kapan kami akan berjodoh. Jika kami sudah tidak lagi berjodoh mungkin tidak ada gunanya saya menuliskan ini, yang sama halnya dengan patung-patung pahlawan itu yang hanya jadi hiasan kota saja.
Terima kasih Lae! meski kau tau pernah mengajariku tapi sudah banyak ilmu yang sudah kudapat darimu.