Archive for the ‘Thought’ Category
Novita Kristiana Hutabarat

Berparas remaja
Bertingkah lasak
Bersuara lantang
Namun kedewasaannya mengalahkanku
Selamat panjang umur sayang, jangan pernah berhenti mengajariku.
Ps: Malam ini kau anggun sekali.
Si Goda Gila
Melesat menuju langit tujuh
Secepat kilat menembus angkasa
Jauh kutinggalkan planet bumi
Terbang melayang melanglang buana
Racun cinta membius hamba
Panas dingin demam asmara
Cinta memang gila
Gak kenal permisi
Bila disengatnya
Say no to kompromi
Ku tak kuasa ku tak berdaya
Si kebo bego dicucuk hidungnya
Cinta Gila - Netral
Pemilihan Agama
Berkuda besi disore hari dengan mengitari pinggiran kota Bogor ternyata membawa buah pemikiran buat saya. Disepanjang perjalanan itu saya menemukan banyak sekali spanduk, poster, baliho yang berperang untuk menjual calon bupati Bogor dimasa mendatang. Buat saya iklan-iklan calon Bupati itu terasa bualan belaka seperti memberikan janji kepada anak kecil yang nanti akan membawanya kepasar berbelanja mainan.

Memang cukup membosankan dengan janji-janji mereka, tapi ada pola yang saya temukan diantara iklan-iklan kampanye yang berserakan itu. Kini saya melihat bahwa agama sudah dijadikan media untuk kampanye mereka. Lihat saja, pose-pose calon bupati itu pada saat di foto, ada yang menggunakan surban, baju koko, dan ada pula yang tidak lupa membawa tasbih. Tampak seperti orang yang sangat beriman bukan? Lalu apakah itu bisa menjual mereka? Mungkin cukuplah.
Saya jadi teringat, bahwa dulu kehidupan sosial dan adat istiadat dijadikan media untuk menyebarkan agama. Tapi kali ini agama dijadikan alat jual untuk kampanye politik mereka. Apakah ini tanda-tanda bahwa negara ini benar-benar negara beragama?
Hari Tanpa Iklan Tembakau
Jengjeng dadakan bersama Sultan Ndoyokarta semalam ternyata membawa cerita baru untuk blog ini. Setelah bertemu dengan ibu pejabat KDI di Cibujang, saya dan nona bermata bulat itu menawarkan sang Sultan untuk mengunjungi kerajaan Sillymangi. Sang Sultan pun dengan senang hati menerima tawaran kami dan mengharapkan kungjungan sang Sultan itu dapat mempererat hubungan bilateral diantara kedua kerajaan.
Setibanya sang Sultan di kerajaan Sillymangi pada malam hari, saya langsung mengajaknya keliling kerajaan. Tepatnya mengelilingi jantung kerjaan dengan berjalan kaki dan hampir setengah jantung kerajaan itu kami kelilingi. Banyak hal yang saya dan sultan dapatkan dalam perjalanan itu, tak lupa kami pun menyempatkan diri untuk mengambil gambar kenangan disetiap sudut kerajaan.
Diakhir penutup perjalanan malam itu tak sengaja saya melihat media berposisi vertikal yang ternyata pesan didalam media itu adalah kampanye untuk mendukung hari tanpa tembakau sedunia, kebetulan di peringati pada hari itu. Saya terheran-heran ketika kata-kata dalam kampanye tersebut, mungkin beginilah susunan kata-katanya “Industri rokok menjeratmu anak muda. Larang total semua iklan, promosi, dan sponsor rokok - Hari tanpa tembakau sedunia 31 Mei 2008″. Diposisi paling bawah media itu tertera lambang kerajaan Sillimangi dan lambang sponsor WHO.
Sejak kecil saya tak pernah merokok, mencobanya pun kurang tertarik. Lantas apakah saya harus mengajak kawan-kawan saya untuk tidak merokok atau berhenti merokok karena dia disamping saya? Ah, saya tidak akan melakukan hal itu selama saya tidak merasa terganggu dan kawan itu tidak bertanya “Kok gak ngerok sih lu? Gak gentle banget?!”. Jika begitu, apakah pantas jika kerajaan Sillymangi berkampanye seperti yang tertera di media itu? Padahal disana sini masih ada iklan layanan dan halte-halte kendaraan umum yang mempromosikan rokok. Belum lagi pajak iklan yang masih jadi bagian dari pembangunan kerajaan ini.
Bagaimana kawan, apakah kalian punya cerita tentang tembakau kemarin?
Yang Lalu Biarlah Berlalu
Menjelang Pemilu 2009, tampaknya televisi tidak mau kehilangan beberapa momen. Terlihat dari semakin banyaknya program-program yang menyajikan dialog dengan mengundang beberapa pengamat politik. Dan tak lupa, banyak juga blogger yang sudah mulai menyinggung soal Pemilu nanti, seperti saya ini. Yah, mungkin ini bisa jadi topik yang menjual dan mungkin bisa menjadi catatan sejarah negeri kita ini.
Saya memang kurang mengerti soal Politik, tapi tak ada salahnya jika saya beropini lewat blog ini.
Dari program dialog yang ditayangkan di televisi itu biasanya mengundang beberapa pengamat, nara sumber, tim sukses yang nanti akan berjuang dan mungkin simpatisan. Mereka diundang tampil supaya program itu terlihat ramai dan dialog yang dilakukan berjalan dengan seru. Memang, para pengamat, nara sumber, dan tim sukses itu pintar sekali mengeluarkan pernyataan dan jawaban yang sering terlontar dalam acara itu. Tak percuma juga mereka memegang gelar Sarjana Politik, Sarjana Hukum atau Sarjana Komunikasi.

Tetapi ada sesuatu yang terlintas dipikiran saya ketika beberapa kali melihat tayangan dialog yang membahas tentang prediksi calon presiden 2009 nanti. Ternyata tamu dialog kali ini adalah salah satu anggota petinggi dari partai yang telah berhasil menjadikan calonnya dipemilu 2004 terdahulu menjadi presiden hingga saat ini. Ketika moderator menyampaikan pertanyaan “Apa yang membuat partai anda mencalonkan kembali beliau” sang petinggi itu menjawabnya dengan lugas “Yah, karna kinerja beliau sampai saat ini sangat bagus meski negara ini sedang dilanda banyak masalah”. Sambil menghela nafas, petinggi kembali meneruskannya “Coba saja bandingkan dengan presiden-presiden terdahulu, rasanya dia masih pantas”.
Yah, kata-kata terakhir pertinggi itu yang membuat saya berpikir, kenapa beliau membandingkan dengan presiden-presiden terdahulu? Memang apa yang salah dengan presiden-presiden terdahulu? beliau pun tak menyampaikannya. Ah, memang itu politik dagang mereka, mencari komparasi dengan yang dulu karena yang dulu terlihat lebih kuno. Memang benar, ada pepatah mengatakan “Belajarlah dari masa lalu” mungkin ini yang ingin beliau sampaikan. Tapi kok saya berpikir jika perkataan yang beliau sampaikan itu dikatakan lagi untuk pemilu berikutnya, apakah itu berarti presiden yang mereka calonkan saat ini pun sebenarnya kuno?


